Senin, 21 April 2014

Sekarang, Engkau Berubah



Dulu, ketika pertama kali menginjak rumah dakwah ini, apa yang kau rasakan saudaraku? Ternyata di dunia ini, karunia Allah begitu luas. Menemukan sosok yang luar biasa dalam rangkaian tarbiyah, meniti jalan kebenaran hakiki. Meskipun tak banyak yang ikut bersamamu. Ketika pertama kali kita saling berta’aruf, kita ditanya, untuk apa berada di sini? Untuk belajar berorganisasi, katanya. Jawaban sederhana, singkat dan sekenanya.
Saudaraku, sekarang, engkau telah berubah. Tak tahu cara berorganisasi, tak masalah. Yang penting ikhlas membantu dan kuat pegang amanah. Ketika orang di luar cuma bisa mengumpat, engkau belajar tauhid agar benar sampaikan nasihat. Ketika yang lain mengumbar nafsu kesana-kesini, engkau perbaiki akhlak dan aurat disana-sini. Karena Allah engkau sibuk perbaiki pribadimu disaat yang lain pun sibuk dengan maksiat dan berbangga akan dosa.
Saudaraku, sekarang engkau telah berubah, dari yang dulu melalaikan shalat, kini harimu penuh akan wajibat. Sehingga stabilitas imanmu terjaga tanpa kau menyadarinya. Seperti kata Raihan, bahwa iman takkan diwarisi, takkan dijual-beli, takkan ada di tepian pantai, takkan dengan mendaki gunung tinggi dan meretas lautan api, kecuali jika kita kembali pada Allah.
Engkau sibuk membagi waktu, antara kuliah dan dakwah. Menyadari bahwa, kader dakwah harus pintar, jika ingin nasihat kita pantas didengar. Berusaha sebaik mungkin dengan apapun yang engkau lakukan, karena waktu itu bagaikan pedang. Jika kau tak menggenggamnya erat, maka ia akan menebasmu. Tidakkah Allah yang Maha Penyayang itu berfirman,
“Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS : AL-HAJJ : 47)
Engkau tahu sangat singkat sekali hidup kita di dunia, sehingga terlalu sedikit kebaikan yang mampu kau lakukan sampai ajal tiba. Engkau berusaha agar semua orang memperoleh manfaat darimu, sehingga jika kelak Sang Khalik memanggil, tak ada kata terucap kecuali kebaikan dan do’a. Tak mudah, tapi Allah tiada menzhalimi dengan menyia-nyiakan amalan hambanya.
Jika dulu tak jelas orientasimu, kini engkau tahu kemana akhirnya hidup ini bermuara. Muara yang dilupakan oleh manusia yang digendam dunia. Engkau takut, sebagaimana takutnya Umar r.a  jika langit bersuara, bahwasanya semua msuk syurga kecuali dirinya.
Saudaraku, jika dalam dakwah ini kau lelah, oleh cacian dan harapan jadi satu, maka letakkanlah segalanya itu sejenak sebelum terlelap tidurmu. Dan ingatlah bahwa atas rahmat Allah kini kau berubah. Bahwa atas kehendak-Nya kita bertemu merajut ukhuwah dalam lembaran dakwah. Karenanya jangan kau genggam sendiri bara api itu, selagi kau bisa berbagi panasnya bersamaku.
Untuk saudaraku, atas kelelahanmu, semoga Allah menghapus segala dosamu dan memberimu segala apa yang baik. Semangatmu bagai pagi di hari  Idul Fitri, maka tetaplah kuat, meniti jalan dakwah ini, jika yang lain terhenti. Tetap istiqomah bila yang lain menyerah.

Oleh : “I” Qindi Izzatul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar