Dulu,
ketika pertama kali menginjak rumah dakwah ini, apa yang kau rasakan saudaraku?
Ternyata di dunia ini, karunia Allah begitu luas. Menemukan sosok yang luar
biasa dalam rangkaian tarbiyah, meniti jalan kebenaran hakiki. Meskipun tak
banyak yang ikut bersamamu. Ketika pertama kali kita saling berta’aruf, kita
ditanya, untuk apa berada di sini? Untuk belajar berorganisasi, katanya. Jawaban
sederhana, singkat dan sekenanya.
Saudaraku,
sekarang, engkau telah berubah. Tak tahu cara berorganisasi, tak masalah. Yang
penting ikhlas membantu dan kuat pegang amanah. Ketika orang di luar cuma bisa mengumpat,
engkau belajar tauhid agar benar sampaikan nasihat. Ketika yang lain mengumbar
nafsu kesana-kesini, engkau perbaiki akhlak dan aurat disana-sini. Karena Allah
engkau sibuk perbaiki pribadimu disaat yang lain pun sibuk dengan maksiat dan
berbangga akan dosa.
Saudaraku,
sekarang engkau telah berubah, dari yang dulu melalaikan shalat, kini harimu
penuh akan wajibat. Sehingga stabilitas imanmu terjaga tanpa kau menyadarinya.
Seperti kata Raihan, bahwa iman takkan diwarisi, takkan dijual-beli, takkan ada
di tepian pantai, takkan dengan mendaki gunung tinggi dan meretas lautan api,
kecuali jika kita kembali pada Allah.
Engkau
sibuk membagi waktu, antara kuliah dan dakwah. Menyadari bahwa, kader dakwah
harus pintar, jika ingin nasihat kita pantas didengar. Berusaha sebaik mungkin
dengan apapun yang engkau lakukan, karena waktu itu bagaikan pedang. Jika kau
tak menggenggamnya erat, maka ia akan menebasmu. Tidakkah Allah yang Maha
Penyayang itu berfirman,
“Dan mereka meminta
kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan
menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti
seribu tahun menurut perhitunganmu”
(QS : AL-HAJJ : 47)
Engkau
tahu sangat singkat sekali hidup kita di dunia, sehingga terlalu sedikit
kebaikan yang mampu kau lakukan sampai ajal tiba. Engkau berusaha agar semua
orang memperoleh manfaat darimu, sehingga jika kelak Sang Khalik memanggil, tak
ada kata terucap kecuali kebaikan dan do’a. Tak mudah, tapi Allah tiada
menzhalimi dengan menyia-nyiakan amalan hambanya.
Jika
dulu tak jelas orientasimu, kini engkau tahu kemana akhirnya hidup ini bermuara.
Muara yang dilupakan oleh manusia yang digendam dunia. Engkau takut,
sebagaimana takutnya Umar r.a jika
langit bersuara, bahwasanya semua msuk syurga kecuali dirinya.
Saudaraku,
jika dalam dakwah ini kau lelah, oleh cacian dan harapan jadi satu, maka
letakkanlah segalanya itu sejenak sebelum terlelap tidurmu. Dan ingatlah bahwa
atas rahmat Allah kini kau berubah. Bahwa atas kehendak-Nya kita bertemu
merajut ukhuwah dalam lembaran dakwah. Karenanya jangan kau genggam sendiri
bara api itu, selagi kau bisa berbagi panasnya bersamaku.
Untuk
saudaraku, atas kelelahanmu, semoga Allah menghapus segala dosamu dan memberimu
segala apa yang baik. Semangatmu bagai pagi di hari Idul Fitri, maka tetaplah kuat, meniti jalan
dakwah ini, jika yang lain terhenti. Tetap istiqomah bila yang lain menyerah.
Oleh
: “I” Qindi Izzatul
Tidak ada komentar:
Posting Komentar